Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pendidikan

MENDIDIK MANUSIA MODEREN: LUAR DALAM

Gambar
https://2.bp.blogspot.com/-c_2I3KOm87A/WQZx3xbT2wI/AAAAAAAAAGg/8lNoOpe6kWA3KS6wXwuxKB54UkgavD2rgCLcB/s640/2017-05-01_062246.jpg Setiap zaman, tentu berbeda masalah dan kebutuhan hidup manusianya. Hal ini sudah tidak diragukan lagi dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam sejarah, menurut Hegel, ada tiga fenomena ruh yang berjalan dialektis. Pertama fenomena ruh subjektif. Ruh subjektif berarti manusianya, individunya. Zaman dahulu, ribuan tahun sebelum masehi, ruh subjektif ini masih menyelimuti kehidupan manusia, sehingga, satu manusia masih bisa melakukan hegemoni atas manusia lainnya, meskipun itu bersifat tidak manusiawi, dan cenderung tiranik. Slogan, raja adalah wakil tuhan, adalah yang mungkin bisa mewakili realitas dari kejadian terdahulu. Lambat laun, manusia berpindah, dan mulai mampu membuat aturan, kebudayaan, secara bersama-sama, sebagai dialektika dari ke-aku-an yang sebelumnya terjadi. Kedua ini dinamakan ruh objektif oleh hegel. Ruh objektif tadi ialah kebud...

JANGAN MENANGIS,PAK!

Didedikasikan untuk guru-guru (ku) Untuk hari PGRI. 25 Nopember 2017 Oleh: F. Chaidir Qurrota A'yun Hari ini harimu, Tapi kulihat wajahnu teduh, Dilalah duka yang sedu, Mengapa kau murung begitu? Oh, aku tau pak, Mendidik anak manusia sering pelak. Salah sedikit langsung disidak, derita mengajar di zaman hak. Demokrasi yang tak kenal memihak. Semua berhak. Wajahmu masih lugu, Seperti dulu ajarkan lagu, Indonesia raya yang merdu. Kau jawab: "Bukan itu!" Dengan lugu, Masih seperti dulu. Kau keluarkan slip gaji, Ku baca itu berkali-kali, Tak merubah angka yang ada, Mengapa gajimu masih sama? Lalu dia, angkat bicara: " Untuk apa ada hari kita? Sedangkan hidup jauh dari sejahtera, Inikan kehidupan nyata, Butuh uang dan biaya!" Aku berkata, Bukannya yang ku tahu, engkau rela, Dengan gaji segitu saja? Katanya: "Kita berusaha rela dan ikhlas memberi, Tapi, aku, punya anak istri, Butuh biaya sehari-hari, Cicilan ruma...

SEKOLAHKU TAK BERGUNA

Oleh: F. Chaidir Qurrota A'yun Aku sekolah dengan pulpen dan buku, Sedangkan di pabrik, aku pegang mesin dan besi yang menderu. Aku sekolah jurusan teknik industri , Sedangkan sejak kecil, aku menyukai musik dan puisi. Kata guruku: manusia adalah merdeka. Tapi aku lihat, banyak buruh dibayar murah. Terpaksa menerima, karena takut di PHK. Saat lulus sekolah, Aku disematkan kertas ijazah. Dan sekarang ijazahku sering tak laku, Bersama riwayat hidup dan kartu dalam map coklat. Sebab nilai dan umurku ada di batas darurat. Aku diajarkan untuk pintar matematika, kimia dan fisika, Jika aku tak bisa, maka aku akan terhina, Dan di mata guruku, jadi nomor dua. Aku sekolah dua belas tahun lamanya, Namun, tak mampu jadi alat penyelesaian persoalan, Untuk berjalannya kehidupan. Kasihan Ayahku, Betapa besarnya ongkos hidup dan sekolah, Tapi tak seratus ribu juga, tak mampu kuberikan padanya. Bekasi, 15 November 2017

STAI HAS MENGADAKAN SEMINAR "FUN LEARNING SYSTEM"

Sekolah Tinggi Agama Islam Haji agus salim (STAIHAS) Cikarang mengadakan seminar pendidikan “FUN   LEARNING   SYSTEM”   Pada hari Minggu 19 November 2017 di Aula kampus STAI Haji Agus Salim Cikarang. Seminar tersebut di hadiri oleh dua narasumber, yakni dosen dari STAI Haji Agus Salim, Ibu Daan Dini Khoirunida S.Ag, MEIL dan kaka Sasha Zaskia owner dari math for fun . Seminar ini dihadiri oleh ketua STAI Haji Agus Salim, dan oleh kurang lebih 100 peserta, Peserta yang hadir bukan hanya dari STAI Haji Agus Salim, tetapi juga dari kampus lain sertaa guru-guru PAUD. Narasumber   yang pertama adalah Ibu Daan Dini Khoirunnida S.Ag, MEIL, yang kerap dipanggil “Bunda Hanan” oleh mahasiswanya. Dengan tema nya “The Impact Of Fun and Enjoyment On Adult’s Learning” Beliau menyampaikan tentang bagaimana “belajar” bukan lagi menjadi momok yang menyeramkan, tetapi sebaliknya, belajar menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi peserta didik. Fun learning system sangat pe...

MELALUI PESANTREN, CETAK GENERASI BERKUALITAS

Gambar
Foto; Kang Badrun (Santri Daaruttholibin - Cianjur)                     Pendidikan tradisioal tertua yang ada di Indonesia ialah Pesantren . dari jaman Indonesia dijajah oleh kaum kapitalis pesantren sudah didirikan sebagai pusat pembelajaran yang ada dikampung-kamupung. Ada 4 ciri khas pendidikan yang dipakai dipesantren: Ta'lim  (Pembelajaran Ilmu/ Transfer of Knowlege) , Para Kyai di bantu Ustadz/Ustadzah memberi pelajaran ilmu pengetahuan terutama dibidang agama ubudiyah, syariah, muammalah , moral, dll.  Santri di didik secara disiplin menghafal dan diberi motivasi yang positif sehingga para santri ketika menghafal bukan ingin mendapat gelar, penghargaan, pujian, ijazah, sertifikat saja, tapi betul-betul ingin berilmu ingin menguasai ilmu tersebut contoh santri menghafal kitab al-fiyah (1000 bait ), ilmu mustolahul hadist , ilmu tafsir dll. Tadris  adalah mengamalkan ilmunya, jadi para sa...

LYRIC INDONESIA RAYA 3 STANZA

Gambar
Foto: Google Stanza 1 Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku Disanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku Indonesia Kebangsaanku Bangsa Dan Tanah Airku Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu Hiduplah Tanahku Hiduplah Negeriku Bangsaku Rakyatku Semuanya Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku yang Kucinta Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya Stanza 2 Indonesia Tanah Yang Mulia Tanah Kita Yang Kaya Disanalah Aku Berdiri Untuk Slama-lamanya Indonesia Tanah Pusaka Pusaka kita Semuanya Marilah kita Mendoa Indonesia Bahagia Suburlah Tanahnya Suburlah Jiwanya Bangsanya Rakyatnya Semuanya Sadarlah Hatinya Sadarlah Budinya Untuk Indonesia Raya Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku Yang Kucinta Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya Stanza 3 Indonesia Tanah Yang Suci Tanah Kita Yang Sakti Disaanalah Aku Berdiri Menjaga Ibu Sejati Indonesia Tanah Bers...

Pentingnya Kecerdasan Emosional (EQ)

Gambar
Pentingnya Kecerdasan Emosional (EQ) Apa sihh EQ ?? …. Kecerdasan Emosional (EQ) adalah Kemampuan untuk mengetahui apa yang kita dan orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah (Kemampuan mengidentifikasi, memahami, mempergunakan serta mengatur emosi di dalam kehidupan). Kembangkan   EQ mu sejak Muda   !!! Kenapa Anak Muda ?? … Sobat, Masih ingat contoh yang sering kita dengar .“Kalau pohon itu masih muda maka gampang bisa kita bengkokkan dan atur. Tetapi, kalau sudah tua, mau di bengkokkan apa pun, jadi susah. Salah-salah,justru malah patah.” Lebih   gampang untuk mengajarkan hal-hal penting, seperti kecerdasan emosional di usia yang masih muda. Lagian juga lebih gampang buat belajar dan menerima sesuatu kala masih muda. Apalagi untuk hal seperti EQ yang bakal berpengaruh sekitar 80% terhadap kesuksesan . Jadi prinsipnya semakin muda, semakin bagus jika bisa dikembangkan EQ nya . Nah ini dia “Tangga Kematangan Emosi”   y...